Kelahiran “Si Tukang Offside” Yang Melegenda

Keistimewaan Inzaghi tidak dapat terlihat dari gocekannya, atau kecepatan larinya. Malah, kita khususnya para penikmat Serie A pada tahun 1990an serta awal 2000an pastinya sering melihat Inzaghi mendadak terjatuh tidak jelas saat menggiring bola, dan sering ia pun terperangkap offside lebih dari 10 kali didalam satu laga. Tapi, yang istimewa dari laki-laki yang biasa disapa Pippo ini yaitu etos kerjanya serta penempatan posisinya yang dahsyat. Inzaghi seolah tahu kemana bola bakal mengarah serta menempatkan diri di tempat yang menguntungkan bagi mencetak gol.

Penilaian atas ketajaman Inzaghi itu tidak main-main. Sebelum dikuasai dengan duopoli Ronaldo dan Messi sebagaimana saat ini, Inzaghi pernah berada di puncak teratas pencetak gol paling banyak di arena Liga Champions dengan prestasi 46 gol. Catatan tersebut sampai sekarang masih menjadikannya sebagai orang Italia tertajam di Liga Champions. Disamping itu, Filippo Inzaghi pun adalah seorang yang tidak lelah untuk belajar. Hal tersebut diungkapkan oleh mantan kawan satu tim Inzaghi di Milan dan Italia, Gennaro Gattuso. “Inzaghi suka mengumpulkan video klub lawan serta mempelajarinya sepanjang berhari-hari. Dia mengetahui semuanya tentang mereka. Dirinya begitu terobsesi. Banyak yang berpikir jika Inzaghi semata-mata hanya beruntung, namun itu tidak ada kaitannya dengan keberuntungan – semuanya bergantung pada keahlian dan kesiapan. Dia pun terkadang marah pada para pemain sayap bila mereka tidak melepas umpan silang yang tepat di ketika latihan,” ujar Inzaghi.

Memulai Karier Di Tim Kampung Halaman

Filippo Inzaghi memulai karier di Piacenza FC. Di tim tersebut, dirinya mengembangkan karier sepakbolanya serta mulai dliirik klub lain di Serie A. Namanya semakin menguat saat Juventus sudi mengerahkan dana sebesar 10 jt Euro di tahun 1997 untuk mendapatkannya dari Atalanta. Angka tersbebut dipandang cukup besar di masa itu. Bersama dengan Juve, Inzaghi mulai matang. Dirinya menjadi andalan di lini depan Si Nyonya Tua bersama dengan Alessandro Del Piero. Bersama dengan Juventus, Pippo sempat memberi sejumlah gelar juga satu gelar Scudetto, satu Super Coppa Italiana. Masuknya striker baru David Trezegut ke Juventus membuatnya musti beralih ke AC Milan pada tahun 2001, dan pilihan tersebut tidak pernah salah.

Masa Keemasan Di San Siro

AC Milan membawa Inzaghi ke San Siro pada musim panas 2001 dengan mahar 37 jt Euro. Pippo membayar kepercayaan yang diberi manajemen Rossoneri dengan loyalitas tanpa batas. Inzaghi menguatkan AC Milan selama 11 tahun sebelum pensiun pada musim panas 2012. Sepanjang 11 tahun itu banyak hal-hal yang dilewati Inzaghi bersama dengan Milan. Mulai dari dua kali mendapat gelar Liga Champions, kekalahan pahit atas Liverpool pada final Iga Champions 2005 sampai dengan cedera yang lumayan parah. Salah satu momen yang sangat diingat dari karier Inzaghi di AC Milan yaitu saat final Liga Champions 2007. Saat itu Rossoneri musti kembali dihadapkan dengan Liverpool yang menaklukan mereka pada edisi 2005.

Juara Dunia 2006

Menjelang berpartisipasi di ajang Piala Dunia 2006, Italia dilanda krisis besar setting skor yang terkenal dengan sebutan Calciopoli. AC Milan yang adalah klub Inzaghi saat itu tidak lepas dari sasaran. Dengan segambreng masalah semacam itu tidak banyak yang memfavoritkan Italia untuk berbuat banyak di Jerman. Tapi, malah disanalah Italia yang mampu keluar dari problem dengan elegan. Pernah terseok-seok di awal kualifikasi grup serta harus melewati babak 16 besar dengan gol pinalti kontrioversial Francesco Totti, Gli Azzurri bisa lolos sampai ke final lalu kemudian jadi juara setelah menekuk Prancis lewat adu tendangan penalti.

Tetapi, bila dilihat lagi, raihan Italia saat itu dipandang wajar Skuat Italia saat itu diisi oleh sederetan pemain dahsyat mulai dari Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Gianluca Zambrotta, Alessandro Del Piero, Francesco Totti, Luca Toni, dan pastinya Filippo Inzahgi. Inzaghi memang cuma memperoleh satu gol di Piala Dunia 2006 ini saat kontra Republik Ceko di fase grup. Tetapi, gol tersebut yang memastikan laju skuad Marcelo Lippi ke babak 16 besar.

Mengawali Petualangan Baru

Filippo Inzaghi mengawali karier kepelatihannya di AC Milan dengan merancang tim primavera Rossoneri pada tahun 2012. Dipandang berhasil di tim junior, dirinya lalu promosi ke klub utama pada musim 2014-15. Dirinya pernah digadang-gadang sanggup menjawab tantangan tersebut. Tetapi, kondisi Milan ketika itu sedang tidak menentu. Inzaghi tidak dapat leluasa menghadirkan pemain serta membuat Milan bermain tidak menggigit serta gagal lolos ke Liga Europa. Dirinya lalu hanya satu musim bertahan sebagai pelatih Rossoneri. Usai sempat dua tahun menganggur, Inzaghi memilih untuk merancang klub Serie C 1, Venezia pada musim 2016-17 lalu. Selama ini Inzaghi sanggup memunculkan hal yang istimewa di tim itu. Malah, Pippo dapat membawa Venezia juara Serie C 1 dan bakal bermain di Serie B di musim ini. Bila sanggup membuat Venezia bermain bagus, bukan tidak mungkin Inzaghi bakal secepatnya datang lagi ke Serie A sebagai pelatih. Baca juga artikel ini yang dituliskan oleh master agen bola terkenal di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Copyright Blog Ini Punya Uni 2017
Shale theme by Siteturner